RSS

Kakek Tua dan Sebuah Doa

13 May

Kamis, 12 Mei 2011

Saya berangkat ke kantor dari Bogor- JakSel dengan menggunakan Bus. Sebelum sampai di terminal bus, seperti biasa harus 2x oper angkot 12 kemudian 03.

Hari itu saya puasa, dan kebetulan mood saya sedang bagus meski beberapa orang (yang herannya malah bapak-bapak) malah asyik mengomentari (menyindiri) saya yang tidak mau memberi tempat duduk kepada mereka ditepi pintu angkot (iyalah, dimana2 yang duluan dateng kan boleh pilih tempat duduk dan tuh bapak-bapak juga nggak tua-tua banget-merokok pula *ok, mereka tidak mengindahkan ketentuan larangan merokok di fasum*).

Sesaat kemudian saya oper angkot 03, dapat tempat disebelah sopir *yes!*

Ngga ada yang menarik selama beberapa menit awal, hingga angkot sampai didepan stasiun Bogor, karena dicegat seorang kakek tua yang bertanya “terminal bus?”. Yang membuat saya tertarik adalah : kakek tersebut menggunakan kemeja batik lusuh, membawa tongkat untuk menopang jalannya, tanpa alas kaki, dan membawa tas selempang kecil yang nggak kalah lusuhnya.

Sopir angkot disebelah saya memberhentikan angkot dengan wajah kecut, namun setelah menarik napas kecil si sopir berkata : “ayo mbah, masuk aja”

Si kakek tua tersebut yang semula ragu2 melihat lumayan penuhnya angkot kemudian naik kedalam angkot, dan coba tebak? Kakek tua tersebut dengan penuh rasa sopan santun dia berkata “punten neng, punten pak, maaf” bukan meminta2, melainkan minta permisi agar diberi jalan karena dia masuk mencari tempat duduk yang masih kosong, bukan seperti rata2 kebanyakan orang yang “neng geser, mas minggir dikit” minta diberi tampat duduk karena masuk belakangan.

OK, cerita belum selesai sampai disitu, sepanjang perjalanan, si kakek tua nggak sedikitpun dia berkata2 minta belas kasihan, minta uang ongkos atau mengucapkan doa2 yang minta dikasihani penumpang lain (seperti kebanyakan pengamen atau pengemis atau peminta2 dengan kedok amal dsb). Membuat saya berpikir “oh, berarti ni kakek emang stylenya aja yang aneh, nggak pake alas kaki”

Tapi…

kincring.. kincring.. cring..

astaga,, dari kaca spion sopir angkot, terlihat oleh saya, pemandangan si kakek bingung menghitung recehan-recehan yang tidak seberapa dan memasukannya kembali ke tas lusuhnya, kemudian menghitungnya lagi dan lagi, memastikan bahwa uang receh tersebut cukup untuk membayar angkot (2rb perak), nampak wajah yang kebingungan, tapi juga wajah tegar tidak mau meminta atau berkata apapun pada penumpang disekitarnya, yang sama seperti saya, trenyuh menyaksikan kelakuan si kakek tua.

angkot semakin dekat dengan terminal bus, tujuan terakhir saya dan si kakek.

dengan cepat saya mengulurkan uang 5ribuan ke sopir dan berkata “bang, 2 yah, sama kakek2 dibelakang, jangan bilang2 tapi ya, kasian”. ya saya kasian pada si kakek tua tersebut. tapi saya juga nggak mau melukai harga dirinya, melihat sepanjang perjalanan dia tidak mengeluh tapi terus menghitung uang receh yang mungkin hanya cukup untuk membayar angkot. jadi yang bisa saya lakukan hanya ini, membayar ongkos angkotnya.

beberapa meter kemudian, sebelum benar2 sampai terminal, banyak penumpang turun, dan memberi uang ala kadarnya kepada si kakek tua, dan.. astaga.. si kakek tua itu hampir menangis! kakek tua tersebut amat sangat berterimakasih dan nggak tau harus berkata apa.

akhirnya, diangkot tersebut penumpangnya hanya tinggal saya dan si kakek tua, dan saat saya berkata “nanti didepan kiri ya bang” si kakek tua mendekati sopir (dari arah belakang) dan mengulurkan tangannya hendak membayar dengan uang recehan yang sedari tadi disiapkannya. sopir angkot tersebut berkata : “nggak usah mbah, uda dibayarin ongkosnya sama neng ini” *sambil nunjuk kearah saya*.

DAMN! jelas saya nggak enak ati dong, bilang aja “nggak usa mbayar mbah” ato “uda ada yang bayarin tadi mbah” kenapa? malah terang2an nunjuk muka saya.

huff.. apalagi setelah si sopir berkata demikian si kakek tua wajahnya langsung sumringah dan berkata “alhamdulillah, makasih neng!” plus si sopir senyum2 gaje.

belum selesai sampai disitu, si mbah mulai berkata2 (berdoa) : “alhamdulilah, terimakasih ya Allah, semoga si neng dilancarkan rejekinya, enteng jodohnya, dan dimudahkan segala2nya”

“SAYA SHOCK! JUJUR BENAR2 SHOCK!

seumur2, saya kalo ngebantu orang nggak pernah mengharapkan imbalan, eh, tau2 malah dapat doa kayak gitu! kaget dong, apalagi saya cuma membantu membayar ongkos angkotnya yang jelas2 nggak seberapa nilainya.

saya cuma bisa bilang : “udah mbah, udah, nggak usah segitunya, terima kasih mbah, saya ikhlas, udah mbah…”  *dengan muka bingung ma nggak nyaman* ehh.. si kakek tua malah makin kenceng doanya! *makin bingung*

si sopir angkot cuma nyengir sambil bilang “udah neng, diamini aja, moga2 berkah”

*speechless* *mengamini dalam hati*

well, sampai didalam bus juga saya masih berpikir lama, karena sejak awal saya melihat kakek tua itu, saya seolah diingatkan kepada alm. kakek saya.

sobat blogger dan pembaca, bagaimana kalau kalian di posisi saya?

SALVETE,

DIOSCURIOUS

v(^_________^)v

 
1 Comment

Posted by on May 13, 2011 in Through My Eyes

 

Tags: , , , , , ,

One response to “Kakek Tua dan Sebuah Doa

  1. SiUs

    May 13, 2011 at 11:37 PM

    Aku ga tega aja. Cuman kadang aja aku tidak peduli ma seseorang kyk kakek itu. Aku biarin aja..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: